Selamat Hari Ibu
Dulu, di saat saya kecil, ada satu nasehat Ibu yang selalu berulang ia sampaikan. “Nak, kamu harus rajin membaca berita di koran dan menonton Dunia Dalam Berita di TVRI.”“Memangya kenapa, Ma?” Aku bertanya balik…
“Supaya kamu pintar dan punya banyak pengetahuan.”
Begitulah. Saya pun menurut. Menunggu Bapak pulang adalah kegiatan saya dan kakak saya waktu itu. Selain berharap oleh-oleh (yang terkadang beliau bawa dari kantor), juga menanti koran baru (ini selalu, tak pernah absen Bapak menggenggam sepotong koran baru, untuk kami baca di rumah). Tak jarang, kami kakak beradik harus berkelahi karena berebutan meraih koran dari tangan Bapak, agar bisa lebih dahulu membaca. Lambat tapi pasti, kebiasaan membaca koran kemudian menjadi terpatri —bahkan hingga kini.
Lain halnya dengan “rajin” menonton Siaran Dunia Dalam Berita yang tayang jam sembilan malam di TVRI (dulu, hanya stasiun ini yang nongol di layar televisi). Kekuatan fisik saya yang masih anak-anak, belum sanggup bertahan hingga jam segitu. Paling hanya sesekali sempat menonton “tayangan yang disarankan Ibu saya itu”. Misalnya jika malam minggu. Itupun dalam rangka menunggu Program Siaran TVRI yang menjadi favorit. Seingat saya, diantaranya adalah, Selekta Pop, Aneka Ria Safari, atau Film Akhir Pekan.
Ibu saya —-terus terang saja—- memang polos. Ia adalah warga kampung, dan dengan pendidikan terbatas. Tetapi jangan tanya hobinya membaca. Koran, baik bekas atau baru, selalu lahap dibaca. Buku-buku agama —yang lebih sering kumal, jilidnya terkelupas, atau bahkan selembar fotocopyan yang dibagikan Pak Ustadz di Majelis Talim, selalu berulang-ulang beliau baca. Hari inipun, jika mengingat Almarhumah Ibu, saya sering keheranan: kenapa Ibu bisa kecanduan membaca? Lebih-lebih bila mengingat latar belakang pendidikannya yang “seadanya”. Dari mana hobi itu ia pelajari?
Lebih tak paham lagi jika dibandingkan “polah” keponakan saya saat ini. Mereka punya pendidikan bagus. Di rumah besar kami ada perpustakaan. Saya, Kakak Saya (yang perempuan dan laki-laki), semuanya hobi membaca, dan punya koleksi buku cukup banyak. Tetapi, tak satupun dari “anak-anak Kakak saya” itu yang hobi membaca. Menghabiskan waktu berjam-jam di depan tivi, atau pencat-pencet keypad HP mereka kuat. Tetapi tak pernah saya lihat mereka membolak-balik buku koleksi kami.
Balik lagi ke nasehat Ibu.
Imbauannya memang berguna. Tetapi sudah berubah konteks. Hari ini, saya tak sepotong kuku pun percaya bahwa rajin membaca koran dan getol menonton berita di televisi bisa membuat pintar (sebagaimana diyakini Ibu saya).
Bahkan mungkin saya akan ngeri jika anak-anak saya rajin menonton berita tivi (atau keranjingan baca koran, kelak jika mereka sudah mampu membaca). Bukan apa-apa, televisi sudah menjadi salah satu barang yang kehadirannya membuat kita selalu harus waspada. Televisi, entah siaran berita, hiburan, musik, atau film sekalipun, bukan lagi media yang ramah untuk dikonsumsi anak-anak. Cara ringkas dan aman justru adalah dengan melanggar nasehat Ibu.
Maka hari ini, mungkin saya harus memberi nasehat baru untuk anak-anak saya: “Nak, jangan terlalu sering menonton berita televisi…”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar